Sabtu, 09 Juni 2012

PANTUN NASIHAT DAN JENAKA

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).


Peran pantun

Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata.
Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

Jenis-jenis Pantun

  • Pantun Adat
Menanam kelapa di pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah
Ikan berenang didalam lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pusaka
Bukan lebah sembarang lebah
Lebah bersarang dibuku buluh
Bukan sembah sembarang sembah
Sembah bersarang jari sepuluh
Pohon nangka berbuah lebat
Bilalah masak harum juga
Berumpun pusaka berupa adat
Daerah berluhak alam beraja
  • Pantun Agama
Banyak bulan perkara bulan
Tidak semulia bulan puasa
Banyak tuhan perkara tuhan
Tidak semulia Tuhan Yang Esa
Daun terap di atas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Yang haram jangan dicoba
Bunga kenanga di atas kubur
Pucuk sari pandan Jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat dipintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
  • Pantun Budi
Bunga cina di atas batu
Daunnya lepas kedalam ruang
Adat budaya tidak berlaku
Sebabnya emas budi terbuang
Diantara padi dengan selasih
Yang mana satu tuan luruhkan
Diantara budi dengan kasih
Yang mana satu tuan turutkan
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sujinya
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Sarat perahu muat pinang
Singgah berlabuh di Kuala Daik
Jahat berlaku lagi dikenang
Inikan pula budi yang baik
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin
Biarlah orang bertanam buluh
Mari kita bertanam padi
Biarlah orang bertanam musuh
Mari kita menanam budi
Ayam jantan si ayam jalak
Jaguh siantan nama diberi
Rezeki tidak saya tolak
Musuh tidak saya cari
Jikalau kita bertanam padi
Senanglah makan adik-beradik
Jikalau kita bertanam budi
Orang yang jahat menjadi baik
Kalau keladi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
Kalau budi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
  • Pantun Jenaka
Pantun Jenaka adalah pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung, dan dengan pantun jenaka diharapkan suasana akan menjadi semakin riang. Contoh:
Di mana kuang hendak bertelur
Di atas lata dirongga batu
Di mana tuan hendak tidur
Di atas dada dirongga susu
Elok berjalan kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat
Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada didalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya
Naik kebukit membeli lada
Lada sebiji dibelah tujuh
Apanya sakit berbini janda
Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pelita semuanya
Berbisik pekak dengan tuli
Tertawa si buta melihatnya
Jalan-jalan ke rawa-rawa
Jika capai duduk di pohon palm
Geli hati menahan tawa
Melihat katak memakai helm
Limau purut di tepi rawa,
buah dilanting belum masak
Sakit perut sebab tertawa,
melihat kucing duduk berbedak
jangan suka makan mentimun
karna banyak getahnya
hai kawan jangan melamun
melamun itu tak ada gunanya
  • Pantun Kepahlawanan
Pantun kepahlawanan adalah pantun yang isinya berhubungan dengan semangat kepahlawanan
Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah misai tahu takut
Kamipun muda lagi perkasa
Hang Jebat Hang Kesturi
Budak-budak raja Melaka
Jika hendak jangan dicuri
Mari kita bertentang mata
Kalau orang menjaring ungka
Rebung seiris akan pengukusnya
Kalau arang tercorong kemuka
Ujung keris akan penghapusnya
Redup bintang haripun subuh
Subuh tiba bintang tak nampak
Hidup pantang mencari musuh
Musuh tiba pantang ditolak
Esa elang kedua belalang
Takkan kayu berbatang jerami
Esa hilang dua terbilang
Takkan Melayu hilang dibumi
  • Pantun Kias
Ayam sabung jangan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam digunung ikan dilaut
Dalam belanga bertemu juga
Berburu kepadang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi
Anak Madras menggetah punai
Punai terbang mengirap bulu
Berapa deras arus sungai
Ditolak pasang balik kehulu
Kayu tempinis dari kuala
Dibawa orang pergi Melaka
Berapa manis bernama nira
Simpan lama menjadi cuka
Disangka nenas di tengah padang
Rupanya urat jawi-jawi
Disangka panas hingga petang
Kiranya hujan tengah hari
  • Pantun Nasihat
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
Kemuning di tengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri
Parang ditetak kebatang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu
Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata
Ngun Syah Betara Sakti
Panahnya bernama Nila Gandi
Bilanya emas banyak dipeti
Sembarang kerja boleh menjadi
Jalan-jalan ke kota Blitar
jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengan tekun
  • Pantun Percintaan
Coba-coba menanam mumbang
Moga-moga tumbuh kelapa
Coba-coba bertanam sayang
Moga-moga menjadi cinta
Limau purut lebat dipangkal
Sayang selasih condong uratnya
Angin ribut dapat ditangkal
Hati yang kasih apa obatnya
Ikan belanak hilir berenang
Burung dara membuat sarang
Makan tak enak tidur tak tenang
Hanya teringat dinda seorang
Anak kera di atas bukit
Dipanah oleh Indera Sakti
Dipandang muka senyum sedikit
Karena sama menaruh hati
Ikan sepat dimasak berlada
Kutunggu di gulai anak seberang
Jika tak dapat di masa muda
Kutunggu sampai beranak seorang
Kalau tuan pergi ke Tanjung
Kirim saya sehelai baju
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi ranting kayu.
Kalau tuan pergi ke Tanjung
Belikan sahaya pisau lipat
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi benang pengikat
Kalau tuan mencari buah
Sahaya pun mencari pandan
Jikalau tuan menjadi nyawa
Sahaya pun menjadi badan.
  • Pantun Peribahasa
Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Ke hulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian
Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul
Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan
Pohon pepaya didalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan
  • Pantun Perpisahan
Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang ditapak tangan
Biar jauh dinegeri satu
Hilang dimata dihati jangan
Bagaimana tidak dikenang
Pucuknya pauh selasih Jambi
Bagaimana tidak terkenang
Dagang yang jauh kekasih hati
Duhai selasih janganlah tinggi
Kalaupun tinggi berdaun jangan
Duhai kekasih janganlah pergi
Kalaupun pergi bertahun jangan
Batang selasih mainan budak
Berdaun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Bunga Cina bunga karangan
Tanamlah rapat tepi perigi
Adik dimana abang gerangan
Bilalah dapat bertemu lagi
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita bertemu lagi
  • Pantun Teka-teki
Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk dihidung ?
Beras ladang sulung tahun
Malam malam memasak nasi
Dalam batang ada daun
Dalam daun ada isi
Terendak bentan lalu dibeli
Untuk pakaian saya turun kesawah
Kalaulah tuan bijak bestari
Apa binatang kepala dibawah ?
Kalau tuan muda teruna
Pakai seluar dengan gayanya
Kalau tuan bijak laksana
Biji diluar apa buahnya
Tugal padi jangan bertangguh
Kunyit kebun siapa galinya
Kalau tuan cerdik sungguh
Langit tergantung mana talinya ?

















Pantun nasehat adalah salah satu dari macam jenis pantun. Pantun nasehat sendiri merupakan rangkaian kata-kata yang mempunyai makna mengarahkan atau menegur seseorang untuk menjadi lebih baik.

Pantun nasehat dari jaman ke jaman mengalami perkembangan, pada awal mulanya pantun hanyalah karya lisan yang spontan terucap dari orang yang kreatif.

Seperti halnya pantun-pantun lainnya, sekarang pantun nasehat dapat menjelma sebagai pantun tertulis atau pantun tulisan yang mempunyai makna sesusai isi yang disampaikan tanpa mengabaikan sampiran yang menjadi tutur kata penting agar mudah dimengerti serta dipahami oleh setiap orang yang membaca atau mendengarkannya.
  
Berikut beberapa contoh pantun nasehat:

Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Parang ditelak berbatang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu

Kemuning ditengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri

Jalan-jalan ke kota Blitar
Jangan lupa membeli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengan tekun

makanan tersaji dipasang lampu
lampu menyinari di atas meja
naiklah haji bagi yang mampu
memenuhi panggilan dari-NYA
Pantun Nasehat


Kehulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian

Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Kemuning ditengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri

Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan

Ngun Syah Betara Sakti
Panahnya bernama Nila Gandi
Bilanya emas banyak dipeti
Sembarang kerja boleh menjadi

Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Berat lagi bahu memikul

Parang ditetak kebatang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu

Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata


Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding
Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus harapan
ayam turun delapan
Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju


Ada ubi ada talas
Ada budi ada balas
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan merana

Banyak sayur dijual di pasar
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
cepat cepatlah pergi makan

Pantun Nasehat

Kalau harimau sedang mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama
Hati-hati menyeberang
Jangan sampai titian patah
Hati-hati di rantau orang
Jangan sampai berbuat salah
Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.
Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan
Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat

Pantun Nasehat

Jalan kelam disangka terang
Hati kelam disangka suci
Akal pendek banyak dipandang
Janganlah hati kita dikunci
Bunga mawar bunga melati
Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran paham maknanya
Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi
Kala nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati
Ke hulu membuat pagar,
Jangan terpotong batang durian;
Cari guru tempat belajar,
Supaya jangan sesal kemudian.
Kalau harimau sedang mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama
Hati-hati menyeberang
Jangan sampai titian patah
Hati-hati di rantau orang
Jangan sampai berbuat salah
Banyak sayur dijual di pasar
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
Cepat cepatlah pergi makan
Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.
Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan
Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat
Angin teluk menyisir pantai 
    Hanyut rumpai di bawah titi
Biarlah buruk kain dipakai 
    Asal pandai mengambil hati

Pergi mendaki Gunung Daik             
   Hendak menjerat kancil dan rusa         
Bergotong-royong amalan yang baik
   Elok diamalkan setiap masa

Air melurut ke tepian mandi
    Kembang berseri bunga senduduk
Elok diturut resmi padi                 
   Semakin berisi semakin tunduk

Daun sirih ulam Cik Da     
    Makan sekapur lalu mati
Walaupun banyak ilmu di dada
    Biar merunduk resmi padi

Buah pelaga makan dikikir 
    Dibawa orang dari hulu 
Sebarang kerja hendak difikir         
   Supaya jangan mendapat malu 

Kemumu di tengah pekan         
    Dihembus angin jatuh ke bawah
Ilmu yang tidak diamalkan 
   Bagai pohon tidak berbuah
Tumbuh melata si pokok tebu
   Pergi pasar membeli daging
Banyak harta tak ada ilmu 
   Bagai rumah tidak berdinding

Tulis surat di dalam gelap             
   Ayatnya banyak yang tidak kena
Jagalah diri jangan tersilap           
   Jikalau silap awak yang bencana
 
Hendak belayar ke Teluk Betong           
   Sambil mencuba labuhkan pukat
Bulat air kerana pembetung           
   Bulat manusia kerana muafakat 

 Pakai baju warna biru         
    Pergi ke sekolah pukul satu
Murid sentiasa hormatkan guru
    Kerana guru pembekal ilmu

Lagu bernama serampang laut
    Ditiup angin dari Selatan   
Layar dikembang kemudi dipaut 
    Kalau tak laju binasa badan

Padi segemal kepuk di hulu 
   Sirih di hilir merekap junjungan
Kepalang duduk menuntut ilmu
   Pasir sebutir jadikan intan.

Budak-budak berkejar-kejar
   Rasa gembira bermain di sana
Kalau kita rajin belajar           
  Tentu kita akan berjaya   

Jangan pergi mandi di lombong         
   Emak dan kakak sedang mencuci
Jangan suka bercakap bohong
   Semua kawan akan membenci

Buah cempedak bentuknya bujur
    Sangat disukai oleh semua
Jika kita bersikap jujur
    Hidup kita dipandang mulia

Jikalau tuan mengangkat peti 
   Tolong masukkan segala barang
Jikalau anak-anak bersatu hati           
   Kerja yang susah menjadi senang 

Asam kandis mari dihiris           
    Manis sekali rasa isinya   
Dilihat manis dipandang manis
    Lebih manis hati budinya 

Kayu bakar dibuat arang     
   Arang dibakar memanaskan diri
Jangan mudah menyalahkan orang
    Cermin muka lihat sendiri 

Selasih tumbuh di tepi telaga 
    Selasih dimakan si anak kuda
Kasih ibu membaa ke syurga 
    Kasih saudara masa berada

Masuk hutan pakai sepatu       
    Takut kena gigitan pacat 
 Kalau kita selalu bersatu         
    Apa kerja mudah dibuat 

Bandar baru Seberang Perai     
    Gunung Daik bercabang tiga
 Hancur badan tulang berkecai   
    Budi yang baik dikenang juga

Encik Dollah pergi ka Jambi
    Pergi pagi kembali petang
Kalau Tuhan hendak membagi   
   Pintu berkancing rezeki datang

Orang haji dari Jeddah             
    Buah kurma berlambak-lambak
Pekerjaan guru bukanlah mudah 
    Bagai kerja menolak ombak

Pinang muda dibelah dua         
    Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua         
    Ajaran baik jangan diubah

 Terang bulan di malam sepi           
Cahya memancar kepangkal kelapa
 Hidup di dunia buatlah bakti     
    Kepada ibu dan juga bapa   

Kapal kecil jangan dibelok     
    Kalau dibelok patah tiangnya
 Budak kecil jangan di peluk     
    Kalau dipeluk patah tulangnya 

Asal kapas menjadi benang 
    Dari benang dibuat kain           
Barang yang lepas jangan dikenang   
    Sudah menjadi hak orang lain

Tengahari pergi mengail     
    Dapat seekor ikan tenggiri
 Jangan amalkan sikap bakhil 
    Akan merosak diri sendiri

Kapal Anjiman disangka hantu
    Nampak dari Kuala Acheh
Rosak iman kerana nafsu     
    Rosak hati kerana kasih 
 
Tingkap papan kayu bersegi       
   Sampan sakat di Pulau Angsa
Indah tampan kerana budi   
   Tinggi darjat kerana bahasa

Anak Siti anak yang manja   
    Suka berjalan di atas titi 
Orang yang malas hendak bekerja         
    Pasti  menyesal satu hari nanti

Bintang tujuh sinar berseri             
    Bulan purnama datang menerpa
Ajaran guru hendak ditaati         
    Mana yang dapat jangan dilupa

Parang tajam tidak berhulu 
    Buat menetak si pokok Ru
Bila belajar tekun selalu     
     Jangan ingkar nasihat guru

Hari malam gelap-gelita
   Pasang lilin jalan ke taman
Sopan santun budaya kita               
   Jadi kebanggaan zaman berzaman
 
Pergi berburu sampai ke sempadan
     Dapat Kancil badan berjalur
 Biar carik baju di badan         
     Asalkan hati bersih dan jujur

 Pulau Pandan jauh ke tengah 
     Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
    Budi yang baik di kenang juga
   
Ramai orang membeli jamu         
    Di bawah pokok cuaca redup
Bersungguh-sungguh mencari ilmu
    Ilmu dicari penyuluh hidup 

 Apa guna berkain batik           
    Kalau tidak dengan sucinya?
Apa guna beristeri cantik       
    Kalau tidak dengan budinya 

Berakit-rakit ke hulu             
    Berenang-renang ke tepian 
 Bersakit-sakit dahulu             
    Bersenang-senang kemudian

  Buah cempedak diluar pagar     
    Ambil galah tolong jolokkan
 Saya budak baru belajar         
   Kalau salah tolong tunjukkan 

Pisang emas dibawa belayar 
    Masak sebiji di atas peti
  Hutang emas boleh dibayar     
    Hutang budi dibawa mati

Dalam semak ada duri         
    Ayam kuning buat sarang
Orang tamak selalu rugi         
    Macam anjing dengan bayang

 Baik-baik mengirai padi         
    Takut mercik ke muka orang
 Biar pandai menjaga diri         
    Takut nanti diejek orang 

Ke hulu membuat pagar
   Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar       
    Supaya jangan sesal kemudian

Mari kita tanam halia         
    Ambil sedikit buat juadah
Usia muda jangan disia     
    Nanti tua sesal tak sudah

Padi muda jangan dilurut   
    Kalau dilurut pecah batang
Hati muda jangan diturut   
    Kalau diturut salah datang

Cuaca gelap semakin redup           
   Masakan boleh kembali terang
Budi bahasa amalan hidup             
   Barulah kekal dihormati orang

Orang Daik memacu kuda   
    Kuda dipacu deras sekali
Buat baik berpada-pada       
    Buat jahat jangan sekali

Dayung perahu tuju haluan             
   Membawa rokok bersama rempah
Kalau ilmu tidak diamalkan
   Ibarat pokok tidak berbuah

Kalau kita menebang jati             
    Biar serpih tumbangnya jangan
Kalau kita mencari ganti 
    Biar lebih kurang jangan

Pinang muda dibelah dua 
    Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua 
   Ajaran baik jangan diubah 

Pantai Mersing kuala Johor                 
   Pantainya bersih sangat mashyur
Pohonkan doa kita bersyukur         
  Negara kita aman dan makmur
 
Orang tua patut disegani     
    Boleh mendapat ajarnasihat
Ular yang bisa tidak begini 
    Bisa lagi lidah yang jahat

Ramai orang menggali perigi
    Ambil buluh lalu diikat 
Ilmu dicari tak akan rugi 
        Buat bekalan dunia akhirat

Tuan Haji memakai jubah                     
   Singgah sembahyang di tepi lorong
Kalau sudah kehendak Allah             
   Rezeki segenggam jadi sekarung

Patah gading serpih tanduk
    Mari diletak di atas papan
Jika tahu ganja itu mabuk
    Buat apakah ia dimakan

Anak rusa masuk ke taman         
     Puas sudah orang memburu
Kalau muda jadikan teman
     Kalau tua jadikan guru
       
Berakit ke hulu dengan bergalah 
    Buluh pecah terbelahdua
Orang tua jangan dilangkah 
   Kelak biadap dituduhnya pula

Rusa betina berbelang kaki 
     Mati terkena jerat sembat         
Orang yang muda kita sanjungi 
     Orang yang tua kita hormat

Sorong papan tarik papan
     Buah keranji dalam perahu
Suruh makan awak makan             
    Suruh mengaji awak tak mahu

Adik ke kedai membeli halia
     Emak memesan membeli laksa
Jadilah insan berhati mulia
    Baik hati berbudi bahasa
 
 
PANTUN JENAKA

 Ikan gabus di rawa-rawa
Ikan belut nyangkut di jaring
Perutku sakit menahan tawa
Gigi palsu loncat ke piring
Dimana kuang hendak bertelur
Diatas lata dirongga batu
Dimana tuan hendak tidur
Diatas dada dirongga susu
Elok berjalan kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat
Anak ayam turun ke bumi
Induk ayam naik kelangit
Anak ayam nyari kelangit
Induk ayam nyungsep ke bumi
Limau purut di tepi rawa,
buah dilanting belum masak
Sakit perut sebab tertawa,
melihat kucing duduk berbedak
Jalan-jalan ke rawa-rawa
Jika capai duduk di pohon palm
Geli hati menahan tawa
Melihat katak memakai helm
Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada didalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya
Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati
Saya bingung kamu pun bingung
Kenapa ada bunga melati ???!?
Naik kebukit membeli lada
Lada sebiji dibelah tujuh
Apanya sakit berbini janda
Anak tiri boleh disuruh
Pohon kelapa, Pohon durian,
Pohon Cemara, Pohon Palem
Pohonnya tinggi-tinggi Bo!
Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pelita semuanya
Berbisik pekak dengan tuli
Tertawa si buta melihatnya
Naik kebukit membeli lada
Lada sebiji dibelah tujuh
Apanya sakit berbini janda
Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pelita semuanya
Berbisik pekak dengan tuli
Tertawa si buta melihatnya
Jauh di mata,dekat dihati
Jauh di hati,dekat dimata
Jauh-dekat tujuh ratus perak
Ada apa diseberang itu
Mentimun busuk dimakan kalong
Ada apa diseberang itu
Bujang bungkuk gadis belong
Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada didalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya
Ada buah manggis
Ada juga buah anggur
Awalnya romantis
Pas tekdung malah kabur
Jangan takut
Jangan kawatir
Itu kentut
Bukan petir
Jalan-jalan ke Kota Arab
Jangan lupa membeli kitab
Cewek sekarang tidak bisa diharap
Bodi bohai betis berkurap

Elok berjalan kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat
Buah Nanas, Buah bengkoang
Buah jambu, Buah kedondong
Ngerujak dooooooooonggggggg
Senangis letak di timbangan
Pemulut kumbang pagi-pagi
Menangis katak di kubangan
Melihat belut terbang tinggi
Anak Hindu beli petola
Beli pangkur dua-dua
Mendengar kucing berbiola
Duduk termenung tikus tua
Jalan-Jalan ke Kota Sumedang..
Ada Kambing Makan Rumput..
Anak-anak pada Senang ..
Melihat banci Bergoyang Dangdut..
Bunga mawar tangkai berduri
Laris manis pedang cendol
Aku tersenyum malu sekali
Ingat dulu suka mengompol
Anak cina menggali cacing
Mari diisi dalam tempurung
Penjual sendiri tak kenal dacing
Alamat dagangan habis diborong
Biduk buluh bermuat tulang
Anak Siam pulang berbaris
Duduk mengeluh panglima helang
Melihat ayam bercengkang keris 
Buah jering dari Jawa
Naik sigai ke atas atap
Ikan kering lagi ketawa
Dengar tupai baca kitab
Pohon manggis di tepi rawa
Tempat datuk tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat datuk bermain gundu
Anak dara Datuk Tinggi
Buat gulai ikan tilan
Datuk tua tak ada gigi
Bila makan kunyah telan
Jikalau lengang dalam negeri
Marilah kita pergi ke kota
Hairan tercengang kucing berdiri
Melihat tikus naik kereta
Punggur berdaun di atas kota
Jarak sejengkal dua jari
Musang rabun, helang pun buta
Baru ayam suka hati
Ketika perang di negeri Jerman
Ramai askarnya mati mengamuk
Rangup gunung dikunyah kuman
Lautan kering dihirup nyamuk
Jual betik dengan kandil
Kandil buatan orang Inggeris
Melihat buaya menyandang bedil
Lembu dan kerbau tegak berbaris
Berderak-derak sangkutan dacing
Bagaikan putus diimpit lumpang
Bergerak-gerak kumis kucing
Melihat tikus bawa senapang
Pokok pinang patanya condong
Dipukul ribut berhari-hari
Kucing berenang tikus berdayung
Ikan di laut berdiam diri
Tanam pinang di atas kubur
Tanam bayam jauh ke tepi
Walaupun musang sedang tidur
Mengira ayam di dalam mimpi
Anak bakau di rumpun salak
Patah taruknya ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkaca mata
Orang menganyam sambil duduk
Kalau sudah bawa ke balai
Melihat ayam memakai tanduk
Datang musang meminta damai
Hilir lorong mudik lorong
Bertongkat batang temberau
Bukan saya berkata bohong
Katak memikul paha kerbau
Di kedai Yahya berjual surat
Di kedai kami berjual sisir
Sang buaya melompat ke darat
Melihat kambing terjun ke air


Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ketepian
Berakit-rakit melulu
Kapan dapat gantian? (Cape deh dari dulu-dulu merakit terus)

Main laptop larut malam
Besok telat masuk kerjaan
Kalau adik keluar malam
Pasti lagi kejar setoran (Hayooo yang suka keluar malam)

Panas-panas kota Jakarta
Akibat pemanasan dunia
Bila ingin lulus sarjana
Tidur malam tanpa celana (Biasa men, adik kecil juga butuh udara segar)

Meler-meler ingus keteter
Sampai sakit di kepala
Hati-hati sering teler
Bisa-bisa ke alam baka (Ampun DJ, ngak lagi deh janji)

Kelap-kelip lampu diskotik
Ada musik tambah asik
Gimana mau nilai apik
Makannya cuma keripik (Ingat-ingat empat sehat lima sempurna, ting)

Pergi ke Bandung naik Taksi
Naik taksi tak perlu bayar
Sampai Bandung turun taksi
Turun taksi baru bayar..kahkahkah

Jalan jalan ke kota depok
Nemuin uang segepok
Ada apa dibalik tembok
Ada nenek lagi cebok

Makan roti pake sambel
Makan telor pake garem
Kalo ogut lagi kesel
Mata ogut suka merem

Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati
Saya bingung kamu pun bingung
Kenapa ada bunga melati ???!?

Pohon cabe berbuah cabe
Pohon tomat berbuah tomat
Kalo pohon tomat berbuah cabe
Itu ajaib. Iya ngga Mati?

Makan nasi sepiring berdua
Rasanya enak tiada tara
Awas cowok suka menggoda
Diam-diam watak buaya (Kalo si cewek memang demen digodai gimana?)

Hujan turun rintik-rintik
Duduk berdua di teras rumah
Ingin punya cewek cantik
Syaratnya rumah dan mobil mewah (Wah, ini dia nih si cewek matre)

Nonton bioskop horor Indonesia
Bersama pacar cantik jelita
Hidup jangan disia-sia
Dekati wanita sebanyak-banyaknya (Motonya para playpoy cap kodok)

Jika sudah namanya cinta
Hati terasa berbunga-bunga
Kalau sudah terbawa suasana
Senyum sendiri seperti orang gila (Jangan ampe terbawa mimpi loh)

Hari Valentine telah tiba
Pasangan berlomba saling berbagi
Takut cinta tak diterima
Dukun dapat banyak rejeki (Cinta ditolak, dukun bertindak)


Kue rangin rasanya manis, Kue tar bukanlah lapis
malam dingin hujan gerimis, Sbentar bentar kebelet pipis

Stasiun tugu stasiun kereta api, Tempat jualan si tukang lapis
Hari minggu cuma nonton tipi, Mau jalan dompet dah menipis

Hujan gerimis mulai turun, Naik sampan diterjang ombak
Yang manis boleh berpantun, Yang tampan boleh bersajak

Ini musim masih penghujan, Kata simbok jangan nakal
yang muslim silahkan Jumatan, Bawa gembok amankan sendal

Laen pisau laen pula kujang, Orang dayak mandaunya panjang
Tak usah risau masih membujang, Masih banyak janda menghadang

Kayuh sampan boleh beriring, Sampai pantai terseret ombak
santap sarapan nasi sepiring, Lalap petai harum semerbak

Kalau ada sumur diladang, Bolehlah kita menggosok gigi
kalau anda diwarung padang, Bolehkah kita ditraktir lagi

Langit mendung diatas lautan, Lebat hujannya tiada terbendung
Gadis berkerudung cantik menawan, Kedip matanya rontokan bulu hidung

Hari minggu sudahlah siang, Stelah siang menuju petang
Ditunggu tunggu gak jua datang, Sekali datang koq nagih utang

Ujan gerimis langitnya mendung, Panas terik pakailah tudung
gadis manis pakai kerudung, Mata melirik kaki kesandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar